BEKASI – PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ) semakin memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan dengan mengimplementasikan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaan limbah. Dalam upaya ini, perusahaan berhasil mengolah limbah konstruksi menjadi barang yang bermanfaat, mendukung pengelolaan limbah yang ramah lingkungan serta berkontribusi pada tanggung jawab sosial perusahaan.
Direktur Utama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur, Rendy Ardiansyah, mengungkapkan WTJJ terus berinovasi dalam pengelolaan limbah untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
“Sebagai bagian dari komitmen kami terhadap keberlanjutan, kami menerapkan prinsip 3R dalam setiap aspek operasional, khususnya dalam pengelolaan limbah yang kami hasilkan,” ujar Rendy.
Pada tahun 2024, perusahaan berhasil mengelola sebanyak 30,62 ton limbah melalui prinsip 3R, angka yang menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan 13,12 ton pada tahun 2023. Sebagian besar limbah yang dikelola dengan prinsip ini adalah limbah konstruksi yang banyak dihasilkan terutama pada masa pengecoran yang cukup tinggi di tahun 2023 dan 2024.
WTJJ telah aktif mengurangi limbah konstruksi dengan cara mendaur ulang sisa-sisa konstruksi menjadi hal lain yang berguna, seperti pemisah jalan atau separator jalan. Langkah ini tidak hanya mengurangi jumlah limbah yang harus dibuang, tetapi juga memberikan alternatif bahan konstruksi yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Dengan cara ini, WTJJ membantu meminimalkan kepadatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta memberikan solusi konstruksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Kami sangat berfokus untuk mengurangi pemborosan dan memaksimalkan pemanfaatan setiap bahan yang ada. Limbah konstruksi yang sebelumnya hanya dianggap sampah, kini kami manfaatkan kembali menjadi barang yang dapat digunakan di berbagai proyek konstruksi. Ini tidak hanya menguntungkan dari segi biaya, tetapi juga ramah lingkungan,” jelas Rendy.
Selain limbah konstruksi, WTJJ kini juga mulai menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan limbah lumpur yang dihasilkan dari proses produksi air. Limbah lumpur ini baru mulai muncul setelah fase operasional dimulai pada Desember 2024.
WTJJ telah bekerja sama dengan pihak ketiga yang bersertifikat dan terakreditasi untuk menangani limbah lumpur serta limbah rumah tangga. Pihak ketiga ini memiliki keahlian dan fasilitas untuk mengelola limbah dengan aman dan sesuai dengan regulasi yang berlaku dan telah tersertifikasi. Hal yang sama juga dilakukan dalam pengolahan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), yang memerlukan prosedur khusus dalam pengelolaannya.
“Pengelolaan limbah adalah tugas yang membutuhkan kerjasama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, penyedia jasa pengelolaan limbah, dan masyarakat. Kami terus berkomunikasi dan berkoordinasi untuk memastikan bahwa limbah yang dihasilkan dikelola dengan cara yang paling efisien dan sesuai dengan standar lingkungan yang ketat,” ujarnya.
Perusahaan juga rutin melakukan monitoring terhadap pengelolaan limbah yang ada untuk memastikan bahwa semua limbah yang dihasilkan, baik itu limbah konstruksi, lumpur, maupun limbah lainnya, tidak mencemari lingkungan dan dikelola dengan benar sesuai standar yang berlaku. Dengan pendekatan ini, WTJJ berupaya untuk menjaga keberlanjutan operasional sekaligus melindungi ekosistem sekitar.
Dengan penerapan konsep 3R dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, PT WTJJ berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja operasionalnya menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Upaya ini juga sejalan dengan prinsip ESG (Environment, Social, Governance) yang semakin menjadi perhatian utama dalam dunia industri saat ini.
“Kami akan terus berinovasi dalam mengelola limbah dan mencari solusi yang lebih baik dan ramah lingkungan. Keberlanjutan adalah bagian dari tujuan jangka panjang kami, dan setiap langkah yang diambil bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara perkembangan perusahaan dan pelestarian lingkungan,” tutup Rendy. (*)
