BEKASI – PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ) terus berkomitmen untuk menyediakan air minum yang aman dan berkualitas tinggi bagi masyarakat. Salah satu bagian penting dari upaya ini adalah proses pengolahan air melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Bekasi dan Cibeet. Proses pengolahan dimulai dengan pengambilan air baku melalu Saluran Tarum Barat (STB) yang berasal dari (Hulu) Bendungan Jatiluhur di Purwakarta, yang kemudian diproses lebih lanjut di kedua IPA tersebut.
Manajer Engineering & QAQC PT WTJJ, Bazi Aji mengataan, pengolahan air di IPA Bekasi dan Cibeet melibatkan berbagai tahapan penting untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan memenuhi standar kesehatan.
Proses pertama adalah koagulasi, di mana pada proses pengadukan cepat dan lambat bahan kimia koagulan digunakan untuk mengikat partikel halus (polutan) dalam air baku yang sulit mengendap secara alami.
“Selanjutnya, proses flokulasi dilakukan untuk mengumpulkan partikel-partiket flok (gumpalan) tersebut menjadi flok yang lebih besar,” ujarnya.
Setelah itu, lanjut Bazi, proses sedimentasi berlangsung, di mana flok (polutan) yang cukup besar dan berat akan mengendap di dasar chamber untuk selanjutnya di proses menuju ke slude system.
“Kemudian, air yang telah dipisahkan dari polutan tersebut disaring melalui tahap filtrasi untuk menghilangkan partikel-partikel lebih kecil dan polutan lainnya,” jelasnya.
Terakhir, proses disinfeksi dilakukan dengan menambahkan bahan kimia seperti klorin untuk membunuh patogen dan mikroorganisme berbahaya.
Selain itu, tambah Bazi, PT WTJJ juga menggunakan proses pertukaran ion untuk menghilangkan zat pencemar anorganik yang tidak bisa diatasi melalui proses filtrasi atau sedimentasi.
“Dengan serangkaian proses ini, air yang dihasilkan oleh IPA Bekasi dan Cibeet dipastikan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan,” kata Bazi.
Seperti yang diketahui, standar tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.
Bazi menjelaskan, kriteria yang harus dipenuhi dalam persyaratan kualitas Air Minum Curah (AMC) antara lain adalah pH air minum ideal antara 6,5 hingga 8,5, Turbidity tidak melebihi 1 NTU, dan Sisa Klor antara 1 hingga 2 Mg/l cl.
“Selain itu, air minum harus bebas dari bakteri patogen,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT WTJJ, Rendy Ardiansyah menambahkan teknologi modern seperti sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) mendukung proses penjagaan kualitas air yang dihasilkan dari kedua IPA tersebut.
SCADA memungkinkan pengawasan kualitas air secara real-time dan memastikan setiap tahap pengolahan berjalan dengan baik. Selain itu, dengan teknologi ini, PT WTJJ dapat menjaga efisiensi operasional, termasuk memastikan tingkat water loss yang sangat rendah, yakni di bawah 1 persen.
“Proses pengolahan air yang kami lakukan di IPA Bekasi dan Cibeet tidak hanya berfokus pada kualitas air, tetapi juga pada efisiensi dan keberlanjutan. Kami bangga bisa menghasilkan air minum yang sesuai dengan standar kesehatan, sekaligus menjaga sumber daya air dengan tingkat kerugian yang sangat minim,” ujar Rendy.
Dengan adanya inovasi teknologi dan pengolahan yang optimal, PT WTJJ terus berupaya memastikan kebutuhan air bersih dan sehat bagi masyarakat terus terpenuhi. (*)
