Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyakit menular Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV), telah dilaksanakan kegiatan Penyuluhan Infeksi TB dan HIV yang disampaikan oleh dr. Muhammad Haris Yulius, Sp.PD. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi yang benar, menghilangkan stigma, serta mendorong perilaku hidup sehat dan pencegahan penularan penyakit. (28/01/2026)

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dan bukan penyakit keturunan, guna-guna, maupun akibat racun. TB dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru, kelenjar, kulit, tulang, dan organ lainnya. Penularan TB terjadi melalui udara, ketika kuman terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, kemudian menyebar ke paru-paru dan bagian tubuh lain melalui aliran darah.

Gejala utama TB yang perlu diwaspadai adalah batuk terus menerus berdahak selama tiga minggu atau lebih, disertai gejala tambahan seperti batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, penurunan berat badan, keringat malam, demam berkepanjangan, serta rasa lemah dan tidak enak badan. Pemeriksaan dahak menjadi metode utama untuk memastikan diagnosis TB, sehingga masyarakat diimbau segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala tersebut

Selain TB, penyuluhan juga membahas HIV dan AIDS. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS merupakan kumpulan gejala akibat menurunnya daya tahan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV. Virus HIV terdapat dalam cairan tubuh tertentu seperti darah, cairan mani, cairan vagina, dan ASI, serta dapat menular melalui pertukaran cairan tubuh, antara lain melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, serta penularan dari ibu ke anak.

Ditekankan pula bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari, seperti bersalaman, berpelukan, menggunakan alat makan bersama, gigitan nyamuk, maupun tinggal serumah dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan diskriminasi dan tetap memberikan dukungan sosial kepada ODHA.

Hingga saat ini, HIV belum dapat disembuhkan. Namun, terapi Antiretroviral (ARV) tersedia untuk menghambat perkembangan virus dan memungkinkan ODHA hidup lebih sehat dan produktif. Pencegahan HIV dapat dilakukan dengan menghindari perilaku berisiko, setia pada satu pasangan, menggunakan kondom secara benar, tidak menggunakan narkoba suntik, serta meningkatkan edukasi diri dan lingkungan sekitar.

Rendy Ardiansyah, Direktur Utama WTJJ, menyampaikan bahwa kegiatan penyuluhan TB dan HIV merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kesehatan masyarakat. “WTJJ meyakini bahwa kesehatan adalah fondasi utama pembangunan yang berkelanjutan. Melalui edukasi TB dan HIV ini, kami ingin meningkatkan kesadaran, menghapus stigma, serta mendorong deteksi dini dan pencegahan penyakit menular di lingkungan sekitar. Upaya ini sejalan dengan komitmen WTJJ dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan berdaya,” ujar Rendy Ardiansyah.

Melalui penyuluhan ini, masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan layanan Konseling dan Testing HIV Secara Sukarela (KTS) yang bersifat rahasia dan sukarela sebagai langkah deteksi dini dan pencegahan penularan lebih lanjut. Edukasi yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, menurunkan stigma, serta memperkuat upaya pencegahan TB dan HIV di lingkungan masyarakat.

Bagikan di sosial media anda!

Beroperasinya SPAM Regional Jatiluhur 1 akan menambah akses air minum nasional hingga 2 juta orang.

Air yang dihasilkan oleh Instalasi Pengolahan Air WTJJ memiliki kualitas air yang tinggi dan sesuai dengan kualitas air minum yang dipersyaratkan dalam Permenkes No 492 Tahun 2010.